Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara Seno Gumira Ajidarma

ISBN: 9789798793356

Published: 1997

Paperback

120 pages


Description

Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara  by  Seno Gumira Ajidarma

Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara by Seno Gumira Ajidarma
1997 | Paperback | PDF, EPUB, FB2, DjVu, audiobook, mp3, ZIP | 120 pages | ISBN: 9789798793356 | 3.24 Mb

Saya membaca buku ini sudah lama sekali. Tepatnya waktu kuliah dulu. Ketika api jurnalistik dalam jiwa saya begitu menggelora. Berbarengan dengan meletupnya gairah saya dalam mensetubuhi dunia sastra.Selama mahasiswa, saya aktif dalam dunia pers kampus. Dunia pers kampus, tentu beda dengan dunia pers industri. Belum ada batas rasional yang saya pikirkan kecuali hanya menulis dan menulis. Hingga akhirnya, karena tulisan saya itu, saya sering berhadapan dengan pihak Dekan atau Rektor. Pun Militer. Atau bahkan teman sendiri yang aktif di organisasi ekstra kampus. Seringkali saya pisuh-pisuhan dengan teman yang ikut HMI karena memonopoli informasi beasiswa.

“Dasar Himpunan Maling Indonesia,” ejek saya. Rasa benci terhadap HMI itu, alhamdulillah masih ada sampai sekarang. Tidak tahu kenapa. Pokoknya mereka jelek saja.Mungkin, saya adalah mahasiswa yang sering masuk ruangan Dekan. Bukan karena saya mahasiswa berprestasi, tetapi karena saya sering membuat masalah di luar kampus dan ‘menyindir’ Pak Dekan yang punya istri muda.

Saya benci Pak Dekan karena dia bekas HMI dulu. –tetap-.Pun dengan pihak Koramil. Pernah suatu pagi, pintu kamar kost saya –yang saya maksud kamar kost adalah sebuah ruangan kecil di kampus tempat saya dan beberapa teman numpang tidur- diketok oleh seseorang. Dengan tampang lusuh, saya buka pintu itu. Muncullah Pak Pembantu Dekan III. Sambil menutup mulut, saya tanya.

“Ada masalah apa lagi, Pak?” tanya saya. “Biasalah. Kemarin malam, pihak Koramil datang ke kampus. Dan mencongkel mading dan mengambil beberapa tulisan dan karikatur di sana,” jawab dia. Huh. Waktu itu, saya menulis untuk ajakan golput dan tidak memilih lagi Soerharto sebagai presiden.Beberapa pengalaman itu menjadi latar belakang kenapa buku ini menjadi spesial.

Akhirnya saya menekuni dunia sastra. Kenyataan di dunia sastra itu juga lebih tragis. Tak pernah punya tempat di khalayak ramai. Tapi itulah sastra! Yang ada di halaman tengah koran-koran Indonesia, bukan halaman depan atau halaman belakang. Apalagi headline. Sebab, halaman depan dan belakang koran hanya untuk memuat berita yang wajar.

Bukan sastra. Pembunuhan, perampokan, kerusuhan, pemerkosaan, pembredelan, naiknya harga lebih normal dibanding sastra.Sastra atau sastrawan lebih suka yang aneh. Sastra adalah perlawanan. Sastra adalah tujuan ziarah kemerdekaan pemikiran. Ibarat pegunungan, sastra penuh dengan tanjakan, turunan dan lembah yang terhingga. Sastra dijelajahi oleh sastrawan yang kemudian menceritakan hasil dan proses ziarah pada sesama. Pada fase inilah, seringkali sastra dianggap penyimpangan dan perlawanan, tatkala sang pencerita melihat pemandangan yang lain. Pada dasarnya, sastra merupakan potret kehidupan manusia dan lingkungannya dalam bentuk kata kalimat dan bahasa.

Ia merupakan bentuk kreativitas – yang kadang lepas dari batas semu kewajaran – manusia yang tumbuh berkembang secara simultan dengan peradaban umat manusia di bumi.Sastra juga berbicara tentang sosial budaya moralitas yang tinggi. Dus, sekali lagi, sastra adalah potret kehidupan manusia dalam bentuk bahasa. Ketika kata-kata yang ditulis menggugah budi orang, saat itu fungsi kata bukan sekedar mengiyakan keadaan, melainkan muncul mengguncang lembut kesadaran manusia. Ketika deretan kata dirangkai menjadi kalimat yang bermakna lalu mampu pula memperhadapkan pembaca pada pertanyaan, gugatan, ajakan merenung.

Ketika itu pula kalimat itu menjadi berjiwa, mempunyai roh bagi tulisan yang disajikan ke pembaca. Bila tulisan berjiwa itu masuk ke dalam kesadaran budi manusia serta bergerak mengetuk kegelapan dan menyingkap kekaburan, di sana proses pencerahan sedang berlangsung. Lewat deretan kalimat yang semula merupakan alphabet atau aksara yang belum dibaca dan diam tak bicara makna pada proses-proses pencerahan dihayati oleh edukasi dasar atau pengaksaraan, disana gelapnya budi mulai disibak untuk menjadi cerah.Itulah sastra! Sebagai oposisi dari berbagai simbol kemapanan yang dilakukan.

Sejak zamannya Chairil Anwar sampai Afrizal Malna terjadi pemberontakan lirik dengan cara dan bentuknya masing-masing. Imaji pemberontakan terpaku pada satu titik temu yang sama: kekuasaan. Dus, sastra kita adalah sastra yang senantiasa diburu oleh kekuasaan. Ada unsur subversif yang selalu mengepung, mengancam dan mendepak. Ia ditakdirkan tidak merdeka kecuali dalam dirinya sendiri. Ia adalah buron sepanjang abad.

Oleh sebab apa? Karena sastra lihai mencuri sesuatu yang lebih dan paling berharga dari manusia yakni estetika. Di kalangan seniman (penyair: sastrawan), sastra hampir pasti selalu diyakini memiliki citra, selera dan ciri estetis yang otonom sifatnya. Sastra mendapat ruang lebar bagi perengkuhan-perengkuhan, mesias dan alternatif wacana-wacana humanis, filosofis yang dianggap sanggup mewadahi bagi ruang publik untuk melakukan katarsis kebudayaan dan identifikasi jiwanya.Di luar itu, di tengah kekuasaan yang melingkunginya, sastra juga sering dipandang sebagai satanic agent, pemicu konflik yang muaranya menyebabkan instabilitas status quo yang mencoba dipertahankan.

Sehingga sastra harus dirumuskan, diarahkan kedalam strategi kebudayaan tertentu. Direkayasa agar sejalan dengan kepentingan yang melingkupinya. Dalam batas yang paling sederhana, hadirnya lembaga-lembaga kesenian seperti dewan kesenian, dan lain-lain, adalah bukti nyata akan hal itu.

Lembaga kesenian itu, dalam proses kerjanya sering pula anarkhis dengan breidel dan sensor karena dianggap tidak sejalan atau telah menyeleweng dari rel besar arus kepentingan yang diacu dan diidealkan penguasa.Dan sastra adalah sastra. Masih menjadi pemberontak. Masih menjadi buron. Kemudian berlangsunglah apa yang disebut sastra semestinya menjadi bagian hidup (HB. Yassin). Sebab, sastra mungkin tidak bisa memberikan nilai yang baik dan buruk. Sastra bisa menawarkan keharmonisan hidup. Sastra bisa menghadirkan permenungan. Sastra memberikan penjernihan jiwa.

Pada gilirannya sastra bisa mengerem kerakusan, penjajahan, kekuasaan, ketidakadilan. Dan itulah sastra ! Seperti Seno Gumiro Aji Dharma berkata, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara . Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta maka sastra bicara dengan kebenaran. Buku sastra bisa di-breidel, tetapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Bahkan oleh ruang dan waktu. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang dilakukan manusia dimuka bumi.Dalam fenomena kekinian, tumbangnya rezim Soeharto bisa jadi lebih cepat kalau saja sastra sebagai media perlawanan bisa diterima banyak kalangan sehingga rakyat tanpa senjata material pun bisa bergerak meruntuhkan tiran.

Tetapi sayang sekali, Soeharto adalah raja kepala batu. Widji Thukul, Goenawan Moehammad, Rendra dan beribu yang lain harus berubah menjadi air yang mengikis batu sedikit demi sedikit. Bukan meriam sebab meriam hanya milik penjajah. Pada tataran ini sastra adalah media perlawanan yang bernuansa pemberontakan pada nilai kewajaran.Sebagai akhir, kesadaran harus dibangkitkan.

Kepedulian harus dilakukan. Membacalah sastra, jadikanlah bagian hidup. Ini jaman sudah berubah. Mendekati perubahan yang menantang kita untuk berenang didalamnya.Kira-kira begitu, pelajaran yang saya petik dari buku ini. Aim aim. –sedang apa ya, kamu di sana?-Saran saya: beli dan bacalah buku ini jika Presiden SBY sudah mulai menyebalkan.Selamat membaca.Gieb.



Enter answer





Related Archive Books



Related Books


Comments

Comments for "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara":


softica.eu

©2009-2015 | DMCA | Contact us